1775064462
Loading...

MENUJU GENERASI EMAS 2045 BERSAMA KEMENKES, YAICI DAN MUSLIMAT NU

Sebelum melanjutkan posting tentang Generasi Emas 2045, saya akan mengajukan pertanyaan berikut: "Pernahkah kita membandingkan generasi kita dengan generasi lain?"

Dalam perbandingan itu, kita sering sekali menganggap generasi kitalah yang hebat. Sedangkan generasi selain kita, kurang berjaya.

Saya jadi ingat bebrapa tahun terakhir timbul ungkapan "Generasi Micin". Generasi yang dianggap tidak sopan, ingin serba instan dan banyak bullly lainnya.

Kalau boleh berpendapat, setiap generasi memiliki masa keemasannya. Tidak bisa digeneralisir semua generasi itu buruk. Tingakah laku, lingkungan dari setiap generasi berbeda sesuai kemajuan zaman. Yang menjadi perhatian kita, haruslah mampu beradaptasi dan memahami antar generasi. 

Sehingga tercipta ketersambungan diatara kita dan terhindar dari gap antar generasi. InsyaAllah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang memiliki rasa kolaborasi antar sesama generasi. 

Generasi Emas 2045

Di tahun 2045 nanti, Indonesia telah berumur 100 tahun. Dalam dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun oleh Menko Perekonomian, diharapkan bahwa pada tahun 2045 Indonesia menjadi negara yang mandiri, maju, adil dan makmur dengan pendapatan perkapitan 15.000 dollar AS dan menjadi kekuatan ekonomi 12 besar dunia.

Tata kelola dan kepemimpinan Negara di tahun 2045 akan dipegang oleh generasi setelah Generasi X, Y dan Z. Kira-kira anak yang sekarang duduk di PAUD dan Sekolah Dasar yang akan menjadi pemegang kendalinya. 

Masih sangat muda bukan? Ya, bahkan lebih dari sekedar millenial yang dianggap generasi serba instan. Dimana seluruh aspek digital ecosystem sudah tersedia penuh dan lebih canggih. 

Tanggung jawab untuk mempersiapkan Generasi Emas 2045 yang mumpuni dalam menghadapi tantangan global bukanlah perkara yang mudah. Pemenuhan hak anak di bidang tumbuh kembang, kesehatan dan pendidikan pada masa sekarang menjadi faktor penting untuk menjawab sebagai pemimpin Indonesia di masa depan.

Kita berdoa dan berusaha saja mengantarkan calon-calon pemimpin bangsa tahun 2045 menjadi “Generasi Emas” yakni generasi yang Energik, Multitalenta, Aktif, dan Spiritual.


Salah satu tanggung jawab stakeholder adalah memberikan edukasi di bidang kesehatan. Kemenkes, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Pengurus Pusat Muslimat NU pada tanggal 30 Oktober mengadakan sosialisasi "Bijak Menggunakan SKM (Susu Kental Manis)". 

Untuk di Semsrang, peserta dalam kegiatan ini adalah 100 kader Muslimat NU Kota Semarang dan sekitarnya. Tak lupa juga beberapa media serta para blogger yang antusias mengikuti.

Acara diadakan di Aula Lantai 3 Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan anak, Pengendalian Penduduk dan KB (DP3AKB) Jalan Bongsari, Semarang Barat, Kota Semarang.

Roadshow sosialisasi SKM ini diadakan di tiga kota, yaitu Semarang, Surabaya dan Lampung.

Maniskah Susu Kental Manis?
Martabak manis dengan bulir coklat dan kacang isi, serta taburan susu kental manis sebagai topping sungguh sangat menggiurkan bukan?

Dari martabak manis tadi sebenarnya kita sudah sedikit mengetahui tentang kegunaan SKM? Ya, susu kental manis memang cocoknya digunakan sebagi pemanis tambahan di berbagai jenis olahan makanan. Tidak baik dikonsumsi bayi. 


Dalam paparan Dra. Zeta Rina Pujiastuti, M.Kes, Apt. Susu Kental Manis (SKM) berbeda dengan jenis susu cair dan produk susu murni lainnya. Kadar lemak susu di SKM memiliki kandungan tidak kurang dari 8% dan kadar protein tidak kurang dari 6,5 %.

Jadi SKM memiliki kadar lemak susu dan protein yang berbeda dan tidak bisa menggantikan produk susu jenis lain sebagai penambah atau pelengkap gizi. SKM memiliki kansungan gula yang terlalu tinggi, hampir 50% di setiap kemasannya. Sebab inilah banyak ditemukan kasus anak-anak yang terkena diabetes. 

Terus kanapa SKM dari dulu dianggap sebagai susu penambah gizi?
Jawabannya kemungkinan besar adalah kurang kontrolnya stakeholder dalam penanganan iklan SKM.

Berdasarkan hasil pengawasan BPOM RI terhadap iklan SKM di tahun 2017, terdapat 3 iklan yang tidak memenuhi ketentuan karena mencantumkan pernyataan produk berpengaruh pada kekuatan atau energi. Klaim tersebut tentunya tidak sesuai dengan kandungan SKM. Namun iklan tersebut sudah ditarik dan tidak ditemukan di peredaran. 

Jenis Susu kental manis (SKM) yang mungkin sering kita konsumsi adalam merek Frisian flag atau Susu Kental Manis Cap Bendera. Menurut Arif Hidayat (Ketua Pengurus Harian YAICI) memaparkan iklan-iklan yang dianggap menyesatkan dikarenakan ditampilakn sebagai minuman dan dikonsumsi untuk anak-anak. Padahal peruntukannya adalah sebagai bahan tambahan atau topping untuk makanan dan minuman.

Pola makan yang salah akan mengakibatkan berbagai macam penyakit di kemudian hari. Kebanyakan mengkonsumsi gula pada anak akan menyebabkan pola makan berubah, obesitas, mal nutrisi, diabetes tipe 1 dan karies gigi serta stanting pada anak.

Dengan sosialisasi dan kerjasama Kemnkes, YAICI dan Pengurus Pusat Muslimat NU, diharapkan masyarakat memiliki sumber informasi dan edukasi yang benar dalam menjaga kesehatan. Terutama bijak dalam menggunakan Susu kental manis (SKM). 

Masyarakat juga diharapkan dapat menyaring informasi dan memastikan kebenarannya dalam mengamati iklan produk makanan, sehingga tidak menjadi miss-informasi. 

Dengan generasi yang sehat dan kuat, akan mewujudkan Nawacita Indonesia menuju Generasi Emas di tahun 2045. InsyaAllah tercapai. Amin.

Post a Comment

  1. Ternyata banyak yang salah kaprah menggunakan skm, termasuk alih hiks, dulu anakku kadang minum juga dan masih kuijinkan walau tahu gulanya banyak huhu sekarang mah nggak boleh..

    ReplyDelete
  2. Yah saya dari kecil sampe sekarang minum susu kental manis terus :(

    ReplyDelete

emo-but-icon

Home item

DO WHIZ IT!