1775064462
Loading...

DETIKCOM LEGENDA MEDIA ONLINE

Masyarakat di Indonesia khususnya Netizen, selama ini pasti hafal dengan cerita sukses Facebook, Google, Microsoft, Apple. Namun masih sedikit yang mengetahui tentang kiprah Detikcom dari mulai berdirinya sampai terjual oleh konglomerat Chairul Tanjung senilai US$ 61 juta. 

Nilai yang fantastis bukan?. Namun dibalik itu semua buku inilah yang mengupas, merasuk sampai ke dalam markas Detikcom.

Buku DetikCom, Detik.Com, buku online store

Beruntungnya saya mendapatkan buku + tandatangan ini langsung dari Sapto Anggoro, penulis sekaligus wartawan pertama DetikCom secara #gretong. Selepas dibeli oleh grup transTV, SAP (sebutan Sapto Anggoro) sekarang mendirikan Merdeka.com di bawah PT.KapanLagi. Keren yak... startUp digital-nya.

MENDOKUMENTASIKAN DETIKCOM 
Buku setebal 200 halaman ini memaparkan legenda (hidup) DetikCom yang masih sangat berkembang pesat hingga sekarang. Dan asyik-nya lagi penulisnya adalah orang dalam yang mengetahui dapur redaksi maupun bisnis DetikCom.

Kita akan diajak Sapto Anggora berjalan-jalan menyusuri kantor redaksi, sambil menceritakan siapa pendiri, siapa redaksi pertama, hingga hal-hal yang aneh seperti koin sebagai senjata pamungkas para wartawan saat belum ada handphone.

Diceritakan juga, selain pelopor media online, DetikCom merupakan perusahaan media yang tidak pernah meminjam uang di Bank, walaupun pernah juga me-PHK karyawan. Walaupun begitu dengan akselerasi yang khas oleh pendiri dan Wartawan yang militan, DetikCom mampu survive hingga sekarang.

Sapto Anggoro menulis ini bukan sebagai buku panduan membuat media online yang sukses, namun lebih berbicara tentang pengalaman, antara lain bagaimana suka duka memimpin tim marketing sales and promotion (online advertising), padahal di juga komando wartawan lapangan. 

Tak kalah pentingnya Cak SAP bercerita tentang passion yang sangat tinggi dari pendiri dalam memajukan DetikCom, siapa lagi kalau bukan Budiono Darsono (BDI), Abdul Rahman, Calvin Lukamantara, Yayan Sopyan, Didi Nugrahadi. Kelima pendiri ini pula diceritakan oleh SAP, tentunya dengan arah pandang dia sebagai pewarta pertama DetikCom.

Namun sayangnya penggarapan buku ini dari segi kaver kurang tergarap dengan apik, seolah ini buku dengan Self Publishing dan harus terkejar waktu. Sesaat saya menemukanya di Gramedia, saya kurang ngeh karena penampilan buku yang ndak art-minded. Tapi keseluruhan isi sangatlah asyik.

Setelah membaca tuntas (2 hari), dari buku ini setidaknya saya memperoleh pelajaran atas kesungguhan pemilik, pengelola, dan staf yang tak kenal lelah, sampai menghasilkan brand DetikCom yang keren sampai saat ini. 

Dari awal berdirinya kantor redaksi di bawah tribun GOR Lebak Bulus sampai kantor elite. brand DetikCom telah menjelma menjadi media independen, fair dan cepat. Secara tidak langsung telah menjadikan label positif di benak pengakses dan pengguna DetikCom.

Dan...
Pastinya kalian yang baca posting ini juga pengakses DetikCom bukan?....

BOOK REVIEW 785338460891322090

Post a Comment

  1. Sampe2 aku install aplikasi detikcom di Ali Padkurrojiku biar gak ketinggalan berita. haha.

    dua hari nyelesaiin 200 halaman? HEBAT! Wah kalo aku bisa setahun baru habis tuh! HAHAHHAA..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo bukunya syik ya dikebut..kalo ndak ya nyicil hehe..

      Delete
    2. Kang Ndop kie, akeh sarene tinimbang mocone hhhh

      Delete
    3. HEhe..kritik & saran tetep berguna Pakies hehe

      Delete
  2. eh mas, hover link menu blogmu paling atas enaknya putih aja deh (#ffffff) kalo hijau kok mati dan kurang bersemangat ya.. hehehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iyak..putih tambah kelihatan active. Udah aku rubah kok :) Thanks.

      Delete
    2. Sekalian blogku direview mas Ndop ​​​​Hɑнɑнɑº°˚˚˚°º

      Delete
    3. enakan ijo Kang, ke mata lebih adem

      Delete
    4. Cuman ganti hover aja kok pak..ndak ganti warna ijo yang dominan inih :)

      Delete
  3. Kalau aku sih pembaca setia kompas, kalau detikcom aku gunain buat cari referensi lain tentang bacaan ku di kompas. cuma sesekali buka detik, gitu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya kalo nuntut kecepatan berita ya Detikcom. Aku juga lebih suka kompas kalo di rucbrik Sos-Bud. Kalo politik Kompas..bikin pusing+amburadul karena terpengaruh insan politik :)

      Delete
  4. wah pengin bisa kayak detik, atau malah lebih gede gitu ya...
    #ngimpidulu

    ReplyDelete
  5. Aminn..semoga terkabul Mas Yono ..Seputar Semarang ajhib kok

    ReplyDelete
  6. Yap, aku termasuk salah satu pengakses detik.com, biasa buka semua kanal berita biar lbh berimbang...pusing kalo cuman baca dan fanatik dg satu media, apalgi berita politik..hahaa, ga jelas krn pemilik medianya jg politisi hehehe...

    ReplyDelete
  7. buku wajib dibeli ini, apalagi saya yang bekerja di media online juga, walau cuma media online lokal sih :D

    ReplyDelete
  8. kapan ya bisa punya blog kayak detik.com

    ReplyDelete
  9. Wah luar biasa nilai jualnya detik com, hasil dariperjalanan panjang sebuah perjuangan intelektual.
    Saya sepakat Kang, meski saya awam seni, sepertinya tampilan buku ini kurang 'menggigit' pandangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perjuangan pendirianya sangan keren Pakies. Yak..semoga di cetak ulang dengan kaver yang lux. Apalagi sekelas DetikCom :)

      Delete
  10. ya saya suka baca dari beragam arus utama media, dari yg hard sampe soft news, dan detik udah nambah khazanah berita di indonesia. saya juga masih pake blogger

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuih keren..btw blognya apa mas?...

      Delete
  11. kalo bisa dikebut 2 hari berarti buku ini dari segi isinya boleh dibilang bagus, walaupun kalo dilihat cover luarnya memang gak banget ya? hehehe

    ReplyDelete
  12. Salam buat teman-teman. Kalau ngobrol angkringan, asyik kali ya. : sapto

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe siap Mas Sapto..ini dia authornya, singgah dimari :)

      Delete
  13. kisah sukses sang media di dunia maya, mantap. ngomong-ngomong harga bukunya berapaan tuh gan ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ANe tepatnya belum tahu harganya, karena buku ini diberikan gratis. Kalo ndak salah kurang lebih 40K

      Delete
  14. dulu kenal media online ya detik.com ini...hehehehhehe sukses selalu mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamt dan sukses juga buat blognya yak :)

      Delete
  15. Sejarah perjalanan DetikCom menarik sekali.

    ReplyDelete
  16. mas dimana ya beli buku ini ? ,saya sangat tertarik skali untuk bahan referensi skripsi saya.tapi ini buku lama jadi saya cari udah pd abis stok ny

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Gramedia kemungkinan sudah tidak ada karena tidak atau belum terbit lagi. Kalau ada kemungkinan kondisi secondhand, bisa dicari di toko online

      Delete
  17. DetikCom, portal berita yang dulunya tak punya kantor berita. :-D

    ReplyDelete
  18. Dear WHIZISME,

    namaku kiran dan aku lg usaha nyari buku ini mati2an demi bantu temen aku yang lg di ambang gagal thesis mengangkat soal buku ini tp ga bs ketemu dimanapun. aku jg uda cari gada hasil. apakah bs mas whizisme bantu dalam bentuk menyewakan atau bahkan menjual buku tersebut..? :( aku ga tega temen aku depresi gagal skripsi..mohon respond nya segera. email aku kirangacheri6@gmail.com thank you

    ReplyDelete

emo-but-icon

Home item

DON'T MISS IT

FREE NEWSLETTER

Berlangganan Artikel Via Email 100% GRATIS