1775064462
Loading...

FILM LINIMASSA 2 - MEDIA DIGITAL DAN PERUBAHAN

"0 meter dri titik2 yg di tipi gak ada rusuh. jd bukan ambon yang rusuh. tlong dong kroscek lbh biar mkin tenang warga"

Tulisan 140 karakter di Twitter tersebut mengawali perjalanan di Film dokumenter Linimassa 2 ini. Cerita yang sangat lugas dibawakan oleh Manda seorang jurnalis di beberapa daerah yang telah menguasai dunianya dengan digital media.

Film Linimassa, linimassa 2, Film SocMed, DESIGN AND CREATIVITY

Lalu apa sebenarnya yang menjadikan istimewa dengan tweet itu?.

Seorang pemuda Ambon dengan sebutan Almas  memberanikan diri menyusun karakter itu untuk memberikan pemahaman publik bahwa kerusahan tanggal 11 september tidaklah separah yang diberitakan media mainstream. Media yang mengakar pada rating iklan seolah membuat bahasan yang hiperbola dengan mengusung berita pembakaran Masjid, Gereja serta meninggalnya beberapa warga. 

Sebagai blogger dan Citizen Journalisme, Almas bertanggung jawab atas keberadaan berita di daerahnya. Dia berani meng-counter attack bahasan simpang yang tidak benar di media. Inilah era kebebasan media dimana aku, kamu dan kita bisa menjadi ujung tombak di media kita sendiri Twitter, Blog ataupun Facebook.



Di Jogja yang sangat Istimewa keberadaan digital media telah memberikan kemudahan dan pendidikan dalam hidup. Salah satu kelurahan Patehan tepatnya dengan 141 warga dalam 41 keluarga sebagian besar telah menggunakan internet. Hampir 90%. Bahkan pos keamanan desa ini pun terdapat koneksi internet. Sungguh luar biasa.

Lek Iwon yang juga salah satu warga dari Kampung Cyber Patehan, menggunakan fasilitas Facebook dan blog untuk mempromosikan produk batiknya. Hasilnya Batik Lek Won dapat diketahui publik mancanegara dan order pun semakin meningkat dengan pasar internasional.



  Cerita menarik lainya juga ditayangkan apik di film berdurasi sekitar 1 jam ini. Di Desa Mandalamekar-Tasikmalaya. Kekuatan Media Digital telah dimanfaatkan sebagai monitoring kegiatan desa, program-program pembangunan dari pemerintah. Selain itu media seperti website Mandalamekar.or.id sebagai media kabar, berita bagi warga asli kampung yang tidak berdomisili lagi di Mandalamekar.

Manfaat lain juga di peroleh dari Komunitas yang konsen di HIV/AIDS dan Difabel. Lewat jejaring mereka mengedukasi publik dengan memberikan informasi tentang HIV/AIDS dan memeberikan pemahaman bahwa orang difabel mempunyai hak yang sama dengan orang normal. Sehingga terjadinya  diskriminasi akan berkurang.



Lagi-lagi eksplorasi lebih dalam dilakukan Manda di luar Jawa untuk mengetahui seberapa besar impact dari penggunaaan media digital. Tentunya persepsi pertama adalah sulitnya penetrasi media digital di luar Jawa. Namun apakah itu terjadi?. Ternyata tidak.

Di Lombok terdapat desa bernama Karang Bajo. desa pedalaman yang mungkin jarang tersentuh oleh media. Namun dengan kemandirianya desa Karang Bajo mempunya media penyiaran seperti Primadona FM. Begitu sederhananya radio yang dibangun tahun 2002 itu menggunakan bahan seperti saklar, mic, amplifier, dan antena bambu. Namun dibalik semua itu informasi di desa Krang Bajo dapat terdengar baik oleh warga setempat.



DI Primadona FM warga dapat berkomunikasi dengan pemerintah. Seperti curhat atas sekolah PAUD yang bangunanya tidak layak karena hanya disangga bambu dan dialasi terpal biru. 

Beda lagi dengan Pak Kitanep, seorang jagawana di Desa Karang Bajo ini. Lewat inisiatf dan kejelianya terhadap putusnya pipa air, dengan memeotret dengan hape China berharga ratusan ribu, Pak Kitanep dapat menolong ketersediaan air desa. Foto pipa air dari Pak Kitanep diunggah oleh Primadona FM dan disiarkan, sehingga banyak bantuan yang datang dari luar. Manfaat yang besar diperoleh dari media yang sederhana. Itulah Digital Media

Film Yang Mengusik
Sudah hampir satu bulan, setelah Nonton Bareng bersama teman-teman DotSemarang di Kopi Tiam. Saya mulai terusik bagaimana dengan keterbatasan media, mereka dapat menjadikan hidup mereka bermakna. Perhaps semangat berbagi adalah satu kata yang terus terbisik di telinga. 

Media digital hanya sebagian kecil dari sarana yang diberikan teknologi kepada kita. Jadi bisa sekehendak hati kita mengambil manfaat atau menyebar bahaya. 

Film yang bisa dilihat di Linimassa.org besutan ICTWatch, WatchDoc menarik dengan eksplorasi yang dalam. Sempat dijumpai di beberapa scene ada yang terlalu dipaksakan endingnya, sehingga cerita agak kabur. Tapi dibalik itu, film dokumenter Linimassa 1 dan linimassa 2 ini patut diapresiasi. Karena pendalaman materi yang sangat berguna bagi kita pengguna Media Digital untuk perubahan. Salut!!
Dan kita telah menjadi saksi. Bagaimana modal besar tak selalu memberi banyak arti (Manda)
INSPIRE 246523743458418219

Post a Comment

  1. salam kenal juga mas brow sukses selalu ya

    ReplyDelete
  2. wah filmnya spertinya sebagus film yang pertama ni, ntar langsung minta kopianya di Rumah Blogger Indonesia ah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat bagus. Wajib ditonton ne Para Blogger :)

      Delete
  3. Hebat filmya :)

    ReplyDelete
  4. ICT watch memang selalu melahirkan inovasi di era virtual ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. film yang benar2 layak tonton ini, mas whiz. kalau semua anak bangsa menyaksikannya, internet di negeri ini makin sehat dan mencerdaskan.

      Delete
    2. Setuju saya dengan Pak Sawali :)

      Delete
  5. aku pernah ketemu mas Almas secara langsung pas ikutan Blogger Nusantara 2011 yang lalu. Ternyata pernah mondok di Jombang lo mas. Kayak sampeyan. Hehehe...

    ReplyDelete
  6. maka dunia maya telah memberikan banyak hal pada seorang bakul pasar, Djangkies. Ia menjadikan menulis sebagai rekreasi pikiran, menjalin silaturahim dan belajar berwawasan. #plak ... ngiklanin diri sendiri hhh
    Contoh-contoh diatas, semakin memberikan semangat pada saya untuk terus belajar menulis.
    TFS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pakies ini juragan pasar dan juragan menulis jugak :) Salam

      Delete

emo-but-icon

Home item

DO WHIZ IT!